“Tatkala Berabad-abad Terasa Sehari: Perspektif Iman tentang Waktu dan Kehidupan”

Oleh : Achmad Munaji Istamar

Manusia sering merasa hidup ini panjang atau pendek bukan karena jumlah tahunnya, tetapi karena rasa yang mengisinya. Hari yang penuh kegelisahan terasa sangat lama, sementara masa-masa yang dilalui dengan ketenangan dan cinta seolah berlalu tanpa terasa. Al-Qur’an sejak awal telah membongkar ilusi manusia tentang waktu. Ia mengajarkan bahwa lama dan tidaknya hidup bukanlah ukuran hakiki, melainkan persoalan persepsi dan kehendak Allah.

Dua kisah monumental—Ashḥābul Kahfi dan Nabi ‘Uzair ‘alaihis salām—menjadi bukti paling gamblang bahwa waktu dalam pandangan iman tidak tunduk pada hitungan manusia.
Ashḥābul Kahfi tidur selama tiga ratus sembilan tahun. Sebuah durasi yang secara sejarah melintasi beberapa generasi, perubahan kekuasaan, dan pergeseran peradaban.

Namun ketika mereka terbangun, pernyataan yang keluar dari lisan mereka sangat sederhana dan jujur: “Kami tinggal sehari atau setengah hari.” Tidak ada kesadaran bahwa berabad-abad telah berlalu. Tidak ada beban sejarah yang mereka rasakan. Yang ada hanyalah rasa singkat, seolah tidur malam yang agak panjang. Al-Qur’an sengaja menampilkan kontras ini agar manusia sadar bahwa waktu objektif dan waktu subjektif tidak selalu sejalan, dan keduanya sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah.

Kisah Nabi ‘Uzair ‘alaihis salām mempertegas pesan yang sama. Allah mematikannya selama seratus tahun, lalu menghidupkannya kembali sebagai pelajaran tentang kebangkitan. Ketika ditanya berapa lama ia tinggal dalam keadaan tersebut, jawabannya pun hampir identik: “Sehari atau setengah hari.” Padahal jasadnya telah hancur, keledainya telah menjadi tulang belulang, dan lingkungan sekitarnya telah berubah total. Namun perasaan yang tertinggal dalam kesadarannya hanyalah kesan singkat. Di sini, Al-Qur’an seakan menegaskan bahwa kesadaran manusia terhadap waktu sangat rapuh, dan Allah mampu mencabut atau mengembalikannya kapan saja sesuai kehendak-Nya.

Para mufassir klasik dan kontemporer memahami bahwa dua kisah ini bukan sekadar cerita ajaib, tetapi pelajaran akidah yang mendalam tentang hakikat waktu dan kehidupan. Imam ath-Thabari menegaskan bahwa penyebutan angka tahun dalam kisah Ashḥābul Kahfi adalah penetapan ilahi, namun fokus Al-Qur’an justru pada jawaban subjektif para pemuda itu. Ini menunjukkan bahwa yang hendak ditanamkan bukan kekaguman pada durasi, melainkan kesadaran bahwa perasaan manusia tidak dapat dijadikan ukuran kebenaran realitas.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah mencabut rasa terhadap waktu dari Ashḥābul Kahfi sebagaimana Dia mencabut rasa sakit dari para syuhada. Tidur panjang itu bukan hukuman, melainkan bentuk penjagaan. Dalam kondisi berada di bawah perlindungan Allah, beban waktu pun hilang. Dari sini, Syaikh al-Qurthubi menyimpulkan bahwa orang beriman sering kali merasakan hidup lebih ringan meskipun ujian berat, sementara orang yang jauh dari Allah merasa hidupnya panjang dan melelahkan meski tampak lapang secara lahiriah.

Imam Fakhruddin ar-Razi melihat persoalan ini dari sisi yang lebih filosofis. Menurutnya, persepsi waktu bergantung pada perubahan dan gerak. Ketika Allah menghentikan kesadaran dan perubahan itu, maka waktu kehilangan maknanya bagi makhluk.

Kisah Ashḥābul Kahfi dan Nabi ‘Uzair menjadi dalil bahwa waktu sesuatu yang mengikuti keadaan makhluk dan kehendak Sang Pencipta. Karena itu, kesombongan manusia modern yang merasa mampu mengatur waktu sesungguhnya berdiri di atas asumsi yang rapuh.

Syaikh Ibn Katsir, ketika menafsirkan kisah Nabi ‘Uzair, menekankan bahwa Allah ingin menghancurkan keraguan manusia tentang kebangkitan. Namun di balik itu, ada pelajaran yang lebih halus: manusia bahkan tidak sepenuhnya memahami waktu yang ia alami sendiri. Seratus tahun bisa terasa seperti satu hari jika Allah menghendaki. Maka bagaimana mungkin manusia merasa aman dengan usia, jabatan, atau kekuatan duniawinya?

Pandangan para mufassir ini menjadu mercusuar para du‘āt ilallāh sepanjang sejarah. Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” Ungkapan ini seolah merangkum pesan Al-Qur’an: hidup bukanlah akumulasi tahun, tetapi rangkaian kesempatan yang terus menyusut.

Syaikh Sayyid Quthb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān membaca kisah Ashḥābul Kahfi sebagai simbol jiwa-jiwa beriman yang terlepas dari tekanan zaman. Menurutnya, Allah menunjukkan bahwa kemenangan iman tidak selalu hadir dalam bentuk perlawanan terbuka.

Kadang, kemenangan itu hadir dalam bentuk penjagaan, pengasingan, bahkan “tidur panjang” yang menyelamatkan akidah. Waktu yang panjang tidak merusak iman mereka, justru menegaskannya. Dari sini, Sayyid Quthb menegaskan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh lamanya berada di panggung sejarah, tetapi oleh keberpihakan kepada kebenaran.

Syaikh Mutawalli asy-Sya‘rawi sering menekankan bahwa keberkahan waktu lebih penting daripada panjangnya waktu. Menurut beliau, hidup yang dipenuhi kelalaian akan terasa panjang dan melelahkan, sedangkan hidup dalam ketaatan terasa singkat dan menenangkan. Ashḥābul Kahfi tidur ratusan tahun tanpa beban, sementara banyak manusia “terjaga” puluhan tahun namun jiwanya letih karena jauh dari Allah.

Maka problem manusia bukan kekurangan waktu, tetapi kehilangan makna dan keberkahan.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan kebenaran ini. Ada orang yang hidup singkat tetapi jejaknya abadi, dan ada yang hidup panjang namun seolah tak pernah ada.

Umar bin Abdul Aziz memimpin hanya sekitar dua setengah tahun, tetapi namanya hidup berabad-abad. Sebaliknya, berapa banyak penguasa yang memerintah puluhan tahun namun dilupakan oleh sejarah? Ini membuktikan bahwa usia biologis tidak identik dengan usia maknawi.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa pada hari kiamat kelak, manusia akan merasa hidup di dunia hanya sebentar. Semua yang dibanggakan—umur, harta, kedudukan—akan terasa seperti mimpi singkat. Maka sejatinya, dunia ini memang singkat, tetapi manusia sering membuatnya terasa panjang dengan ambisi, kecemasan, dan kelalaian. Ashḥābul Kahfi dan Nabi ‘Uzair adalah cermin tentang bagaimana Allah dapat memendekkan persepsi waktu, sementara manusia sering memperpanjang beban hidupnya sendiri.

Pelajaran terbesar dari kisah-kisah ini adalah bahwa Allah berkuasa penuh atas waktu, sementara manusia hanya diberi amanah untuk mengisinya. Kita tidak pernah tahu berapa lama hidup akan berlangsung, tetapi kita tahu bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban.

Hidup yang dekat dengan Allah akan terasa ringan, meski ujian berat. Hidup yang jauh dari Allah akan terasa panjang, meski tampak nyaman.
Pada akhirnya, manusia akan berdiri di hadapan Allah dengan kesadaran yang sama seperti Ashḥābul Kahfi dan Nabi ‘Uzair: “Kami hanya tinggal sehari atau setengah hari.” Saat itu, yang tersisa bukan lamanya hidup, tetapi kualitas iman dan amal.

Maka bijaklah orang yang tidak sibuk menghitung sisa umur, tetapi sibuk mengisi umur dengan ketaatan. Karena waktu, betapapun panjangnya, akan terasa singkat ketika tirai dunia disingkap.
Dan di sanalah kita akan memahami satu kebenaran besar: bukan waktu yang menentukan nilai hidup, melainkan iman yang menghidupkan waktu.

Cisarua, 30 Desember 2025.

Scroll to Top