Oleh : Achmad Munaji Istamar
Rasulullah saw, bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، عَنْ صَفْوَانَ، عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ الْحَكَمِ بْنِ عُمَيْرٍ الثُّعْلَبِيِّ، قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
«إِنِّي لَأَعْجَبُ لِلْمُؤْمِنِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ» رواه احمد فی مسنده رقم 16958
Ketika seorang mukmin membaca sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku benar-benar takjub terhadap seorang mukmin; tidaklah Allah menakdirkan sesuatu kepadanya melainkan pasti itu baik baginya,” maka yang tersentuh bukan hanya hati, melainkan seluruh bangunan keyakinannya. Hadis ini mengandung prinsip dasar yang meneguhkan posisi mukmin di hadapan takdir Rabbnya: bahwa ia tidak pernah benar-benar merugi selama imannya masih hidup. Sabda ini hadir untuk menggugah cara pandang seorang hamba terhadap seluruh perjalanan hidupnya.
Ketika hadis ini diriwayatkan dari berbagai jalur—di antaranya jalur Musnad Ahmad dan Sunan Ibnu Majah—para ulama ahli hadis menilainya sebagai hadis hasan, dikuatkan oleh jalur-jalur penguat lain sehingga maknanya kokoh dan tidak menyisakan keraguan.
Dari Musnad Imam Ahmad, riwayat al-Hakam bin ‘Umair menyebutkan bahwa Nabi saw bersabda dengan lafaz yang jelas: “Sesungguhnya Allah tidaklah menuliskan ketetapan bagi seorang mukmin melainkan pasti mengandung kebaikan baginya.”
Para ulama seperti Al-Haitsami, Bushairi, dan Al-Albani menilai seluruh jalurnya memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadikannya hujjah. Bahkan sebagian dari mereka menegaskan bahwa makna hadis ini mencapai derajat sahih secara makna, karena didukung oleh banyak ayat Al-Qur’an dan hadis sahih lainnya tentang kesempurnaan takdir Allah dan kedudukan mukmin dalam cobaan.
Ketika hadis ini diperhatikan dengan detil dan mendalam, tampak bahwa sabda Nabi tidak berdiri sendiri. Ia berakar kuat sumber Al-Qur’an, dan Al-Qur’an sendiri memberikan landasan tegas bahwa apa pun yang menyentuh seorang mukmin pasti berada dalam wilayah kebaikan, meskipun kebaikan itu tidak selalu tampak pada pandangan pertama.
Ayat yang paling kuat menguatkan makna hadis ini adalah firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 51: “Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami.”
Para mufassir menggarisbawahi penggunaan lafaz لَنَا (untuk kami) sebagai penegasan bahwa ketetapan Allah bagi orang beriman adalah sesuatu yang kembali membawa manfaat, membawa maslahat, dan tidak mungkin menghasilkan kebinasaan hakiki.
Syaikh Ibnu Katsir menekankan ayat ini menjadi dasar akidah bahwa takdir bagi mukmin tidak pernah keluar dari wilayah kebaikan, sementara ath-Thabari menambahkan bahwa seorang mukmin tidak akan melihat setiap kejadian sebagai musibah murni, melainkan bagian dari pemilihan Allah yang Maha Mengetahui untuk dirinya.
Penekanan para mufassir tentang penggunaan kata “lanaa” menegaskan makna hadis: kebaikan itu kenyataan hakiki yang Allah tetapkan.
Ayat lain yang sangat terkait adalah QS. Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian; dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian.” Ini adalah ayat yang secara langsung menjelaskan bagaimana mukmin berhubungan dengan takdir yang tampak pahit. Syaikh Al-Qurthubi menjelaskan bahwa manusia sering tertipu oleh bentuk lahiriah sesuatu; ia melihat sesuatu sebagai musibah, padahal justru itulah yang menghantarkannya menuju keselamatan, kedewasaan iman, atau kenaikan derajat.
Tafsir ini sangat selaras dengan sabda Nabi yang mengatakan bahwa seorang mukmin tak pernah disentuh oleh sesuatu kecuali Allah telah menyiapkan kebaikan di baliknya. Syekh As-Sa‘di menambahkan ayat ini menetapkan fondasi tauhid rububiyah: bahwa manusia tidak layak memprotes takdir, karena Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia, dan penyerahan mutlak kepada ilmu Allah adalah inti dari ketenangan seorang mukmin.
Penjelasan ini semakin kuat ketika kita menengok QS. Al-Hadid ayat 22–23 yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun musibah yang menimpa bumi maupun diri kita kecuali telah ditulis sebelum ia terjadi. Penulisan ini adalah tanda kebijaksanaan Allah dalam mengatur setiap kejadian dengan penuh hikmah. Syaikh Ibn Katsir menekankan bahwa tujuan Allah menyingkapkan hakikat ini adalah agar mukmin tidak hancur oleh kesedihan berlebihan dan tidak sombong ketika mendapat nikmat. Ini kembali mengarah pada makna hadis: bahwa seorang mukmin akan memandang segala sesuatu dengan kacamata iman, bukan dengan kacamata hawa nafsu atau duniawi.
Syaikh Al-Baghawi menegaskan bahwa ayat ini mematikan akar kesedihan yang berlebihan karena seorang mukmin menyadari bahwa Allah tidak mungkin menakdirkan sesuatu yang benar-benar buruk untuk dirinya.
Dari sekian uraian dan ayat albquran nampak jelas bhwa hadist di atas adalah terjemahan dari makna Al-Qur’an yang mendalam.
Para mufassir juga mengaitkan hadis ini dengan QS. Al-An‘am ayat 17, yang menyatakan bahwa jika Allah menyentuhkan kesusahan maka tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Allah memberi kebaikan maka tidak ada yang mampu menahannya.
SyaikhAth-Thabari mengatakan ayat ini mengajarkan bahwa perubahan keadaan manusia seluruhnya berada dalam kuasa Allah; sehingga ketika mukmin memahami bahwa kesusahan itu datang dari Dzat yang sama yang memberikan nikmat, ia akan memandang keduanya sebagai bentuk perhatian Allah. Inilah yang membuat seorang mukmin selalu meraih kebaikan, karena ia tidak melihat kebaikan dalam bentuk fisik ujian, tetapi dalam peluang untuk mendapat pahala, ridha Allah, dan keberkahan.
Ulama kontemporer seperti Syaikh ‘Utsaymin menjelaskan QS. Al-Anbiyā’ ayat 35 bahwa Allah menguji manusia dengan kebaikan dan keburukan, tetapi bagi mukmin kedua-duanya adalah bentuk ujian yang mendatangkan pahala; sehingga tidak mungkin ujian itu berakhir sebagai keburukan bagi mukmin yang sabar dan bersyukur.
Dari seluruh pendapat mufassir tersebut, tampak jelas sebuah prinsip besar: tidak ada kejadian yang tidak mengandung hikmah; semua kedewasaan iman tumbuh dari ujian; kebaikan takdir tidak diukur dari bentuknya tetapi dari hasil spiritualnya; dan seorang mukmin tidak pernah merugi karena setiap keadaan adalah peluang menuju Allah.
Inilah yang membuat para ulama hadist menilai hadis ini memiliki kedudukan tinggi dalam pembinaan akhlak dan akidah seorang Muslim. Para salaf sering mengulang hadis ini dalam menghadapi kesedihan, musibah, kekecewaan, atau ketidakpastian, karena hadis ini menanamkan rasa aman yang tidak tergantung pada kondisi dunia.
Ketika prinsip besar ini dibawa ke dalam konteks lapangan bagi para aktivis dakwah, barulah tampak betapa besarnya pengaruh hadis ini dalam menjaga keteguhan dan stamina mereka. Para ktivis dakwah adalah orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan penolakan, kesalahpahaman, ujian pribadi, kekurangan dana, hambatan program, atau kekecewaan dari manusia. Mereka sering mengalami situasi yang tidak sesuai rencana, bahkan hal-hal yang sulit difahami hikmahnya.
Namun hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak diukur dari apakah kondisi berjalan sesuai keinginan, melainkan bagaimana ia merespons setiap keadaan. Ketika dakwah menghadapi penolakan, itu adalah kebaikan karena melatih ketulusan dan kesabaran.
Ketika dakwah mendapatkan penerimaan, itu kebaikan untuk melatih syukur dan memperluas manfaat. Ketika seorang aktivis merasa perjuangannya terasa berat, ia menyadari bahwa Allah sedang mengangkat derajatnya. Ketika ia melihat hasil dakwah tidak secepat yang diharapkan, ia memahami bahwa Allah sedang mengajarinya untuk tidak tergesa-gesa. Bahkan ketika terjadi keretakan internal, kesalahpahaman, atau kesempitan harta, seorang aktivis dakwah akan melihat itu sebagai kesempatan memurnikan kembali niat, memperbaiki strategi, memperkuat ukhuwah, dan kembali mendekat kepada Allah.
Para masyayikh tarbiyah menjelaskan bahwa makna hadis ini membuat aktivis dakwah tidak mudah putus asa. Ia tidak mengukur keberhasilan dakwah dari hasil lahiriah, tetapi dari kesesuaian langkahnya dengan ridha Allah. Ia tidak menakar perjuangan dari respon manusia, tetapi dari kemurnian niat dan kontinuitas amalnya. Inilah yang membuat dakwah tidak berhenti pada masa sulit; justru pada masa sulit dakwah diperkuat oleh keyakinan bahwa setiap kejadian adalah pilihan Allah yang paling tepat.
Ketika aktivis dakwah memahami bahwa semua takdir mengandung kebaikan, maka kesedihan, kemarahan, kekecewaan, atau kelelahan tidak akan menghancurkan fondasi imannya. Bahkan, ia menjadi semakin kuat, semakin tenang, semakin matang, dan semakin tajam dalam memandang realitas dakwah.
Pada akhirnya, hadis takjubnya Nabi terhadap mukmin bukan hanya menjadi prinsip akidah dan motivasi kejiwaan, tetapi menjadi fondasi perjalanan dakwah. Ia memusnahkan keluhan, mendidik kesabaran, menumbuhkan keteguhan, dan membangun optimisme yang tidak bergantung pada keadaan luar. Hadis ini bersandar kokoh pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan sesuatu bagi hamba-Nya yang beriman, karena setiap ketetapan adalah jembatan menuju kebaikan. Dan dari keterangan para mufassir meneguhkan bahwa mukmin tidak pernah benar-benar berada dalam kerugian selama ia merawat iman dan adabnya kepada Allah.
Maka barang siapa memahami hadis ini sebagaimana para mufassir menghubungkannya dengan Al-Qur’an, ia akan menjalani hidup dan dakwah dengan ketenangan hati yang tidak terguncang oleh apa pun. Karena ia telah memahami makna terbesar dari sabda tersebut: bahwa selama seseorang tetap mukmin, ia selalu di atas kebaikan—dalam nikmat ataupun musibah, dalam kemudahan atau kesulitan, dalam kemenangan ataupun ujian. Sebab seluruhnya telah ditetapkan oleh Allah untuk dirinya, bukan atas dirinya, dan bagi seorang mukmin, itulah kemuliaan terbesar di kehidupan ini.
Cisarua, 10/12/2025